Nama : INDAH ROFIQOH PUTRI
Nim : 17051033
Fak/prodi : FAI / PAI.
Tugas mata kuliah : Media dan Teknologi Pembelajaran Inovatif
Dosen pengampu : Muhammad Suradji, M.Pd
MEMBANGUN KARAKTER SISWA DI ERA MILENIAL
Assalamualaikum
Di sini saya akan menyampaikan opini saya tentang Membangun Karakter Siswa Di Era Milenial.
Nah sebelum saya menjelaskan hal tersebut, saya akan mngupas terlebih dahulu apa sih itu era milenial? Mari kita kupas bersama-sama.
Era milenial atau era yang kita kenal dengan era globalisasi ini merupakan menurut saya bisa di artikan sebagai mendunianya seluruh kehidupan sosial, kehidupan politik, kehidupan ekonomi, hingga kehidupan budaya antara satu negara dengan negara lainnya hingga seluruh dunia dinyatakan tidak memiliki batas.
Nah, sudah kita bahas kan apa itu era milenial. Lalu apa sih salah satu hal yang paling menonjol di era milenial atau era globalisasi ini? Jawabannya adalah Internet.
Rata – rata di antara kalangan remaja Indonesia telah mengenal dan menggunakan internet dalam keseharian mereka. Namun kebanyakan dari mereka belum mampu untuk memilah antara aktivitas internet yang bersifat posistif dan negatif, serta cenderung mudah terpengaruh oleh lingkungan sosial mereka dalam penggunaannya.
Inilah yang mejadi keluhan masyarakat akhir – akhir ini. Generasi muda bangsa yang seharusnya menjadi tokoh dibalik kemajuan bangsa justru muncul dengan perilaku kesehariannya yang mengesampingkan etika dan moral. Waktu demi waktu terus berlalu, namun dampak yang ditimbulkan arus globalisasi kian marak dalam budaya anak muda saat ini. Sebagian besar masayarakat khususnya anak muda telah terpengaruh oleh budaya barat yang dijadikan sebagai ‘kiblat’ setiap perilaku mereka, sehingga hilanglah sudah identitas dan jati diri mereka sebagai Bangsa Indonesia. Berkaca dari permasalahan yang terjadi, maka sudah seharusnya dilakukan upaya-upaya yang dapat membangun karakter bangsa khususnya dalam hal budaya di Era Milenial ini.
Menurut saya Upaya Membangun Karakter Siswa di ERA milenial ini sangat di butuhkan sebuah media media tertentu, seperti apa saja kah media media tersebut, mari kita kupas bersama ;
Media Penunjang Pembangunan Karakter :
Keluarga
Keluarga merupakan media awal dari suatu proses sosialisasi. Begitu seorang bayi dilahirkan, ia sudah berhubungan dengan kedua orangtuanya, kakak-kakaknya, dan mungkin dengan saudara-saudara dekatnya yang lain. Peran orangtua lebih dominan memberi perhatian kepada anak.
Masyarakat
Pembentukan kepribadian dan wahana pengenalan serta pengimplementasian dari nilai dan norma.
Pemerintah
Sebuah wahana yang dapat memberi keteladanan pada masyarakat oleh para pelaksana fungsi pemerintahan.
Media massa
Media massa yang terdiri atas media cetak (surat kabar, majalah) maupun elektronik (radio, televise, dan film), merupakan alat komunikasi yang dapat menjangkau masyarakat secara luas. Media massa diidentifikasikan sebagai media sosialisasi yang berpengaruh pada tingkah laku atau sebuah karakter.
Pendidikan
Wahana pendidikan seperti tim pengajar dalam artian guru dilaksanakan secara terintegrasi. Pada pendidikan tingkat dasar, peran guru sangat besar dan bahkan dominant untuk mempengaruhi dan membentuk pola perilaku anak didik. Peran guru dalam memberi motivasi dan mendorong keberhasilan studi anak sangat besar. Hal itu akan berpengaruh pada tahap pendidikan selanjutnya. Para guru sebagai wakil orang tua tidak hanya bertugas memberikan pengajaran tetapi juga bimbingan karier kepada para peserta didik. Anak dituntut untuk dapat menetapkan sendiri pilihan ke masa depan sesuai bakat dan kemampuannya.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalu proses pendidikan yang diterapkan di sekolah-sekolah. Ki Hajar Dewantara berpendapat bahwa, “pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak kita.”
Maka, pesan yang didapatkan dalam pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan memiliki peranan yang besar dalam membangun karakter bangsa Indonesia.
Seiring berjalannya waktu, generasi muda saat ini justru lebih mudah terpengaruh oleh arus globalisasi yang melunturkan perilaku-perilaku kebangsaan mereka padahal ilmu yang diberikan baik di sekolah maupun di kampus tergolong semakin berat dan mulai bersaing dengan ilmu yang berada di luar sana. Harusnya, ada keseimbangan diantara keduanya maka akan diperoleh generasi muda cerdas dan bermartabat yang siap memajukan bangsa.
Dalam mendidik budaya dan karakter bangsa harus dikembangkan nilai-nilai Pancasila pada diri peserta didik melalui pendidikan hati,otak dan fisik.
Dalam hal ini, pengajar baik guru maupun dosen merupakan fasilitator yang memiliki peran untuk membimbing peserta didik hingga mampu secara aktif mengembangkan potensi dirinya, serta mengembangkan proses untuk berbagi pengetahuan dengan sekitar sehingga ilmu yang diserap dapat diterapkan pada orang lain dan ligkungan sekitar.
Lebih pentingnya lagi apabila dalam penerapannya juga dilakukan penghayatan nilai-nilai menjadi kepribadian dalam bergaul di lingkungan masyarakat, mengembangkan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera dan bermartabat.
Pada dasarnya pendidikan budaya dan karakter bangsa dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai – nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sebagai warga negara yang religius, nasionalis, dan kreatif sehingga dapat mewujudkan kemajuan dan keunggulan bangsa di masa mendatang.
Bung Karno mengemukakan bahwa karakter bangsa Indonesia merupakan kesatuan seluruh wilayah dan hati Bangsa Indonesia serta kepercayaan diri bangsa Indonesia yang tinggi sehingga mampu menjadi bangsa yang patut dibanggakan.
Berkaca dari pendapat yang telah dikemukaan oleh beliau, maka solusi yang paling tepat dalam membangun karakter bangsa di era millenial saat ini adalah dengan membangun dan menata kembali karakter dan watak bangsa Indonesia sendiri dengan terus melakukan pengembangan diri untuk menerapkan pendidikannya di masyarakat.
Tentunya, juga dapat dilakukan penerapan metode-metode yang dapat menarik perhatian orang lain dan lingkungan untuk ikut berpartisipasi dalam pengembangan karakter bangsa yang religius, nasionalis dan kreatif.
Bahasa maupun kebudayaan suatu daerah bisa dijadikan salah satu sarana yang efektif dalam penyampaian ilmu di masyarakat. Pendidikan ‘luar kelas’ pun juga dapat diterapkan agar peserta didik tidak terpaku pada hafalan materi yang ia dapatkan, namun dengan disajikan beberapa studi kasus atau menganalisis langsung suatu permasalahan dalam masyarakat kemudian diterapkan dalam proses kehidupannya.
Namun, perlu diingat bahwa setiap penerapan yang dilakukan haruslah sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku sehingga terjadi kesalahpahaman di masyarakat. Disinilah peran dari kaum cendekiawan sangat diperlukan untuk meningkatkan pendidikan dan karakter bangsa yang lebih inovatif kedepannya untuk memajukan bangsa Indonesia. Mari pemuda Bangsa Indonesia, wujudkan generasi milenial ini bukan sebagai generasi gadget melainkan sebagai generasi pembangun karakter bangsa yang siap memajukan Indonesia.
Dan tambahan lagi dari saya bahwa pendidikan karakter selain di dukung oleh faktor-faktor tersebut, tentunya juga harus di dukung dengan pendidikan agama, diama pendidikan agama itu secara langsung bisa merangsang perilaku, tingakh laku, watak, atau karakter seorang siswa.
Terimah Kasih.
Nim : 17051033
Fak/prodi : FAI / PAI.
Tugas mata kuliah : Media dan Teknologi Pembelajaran Inovatif
Dosen pengampu : Muhammad Suradji, M.Pd
MEMBANGUN KARAKTER SISWA DI ERA MILENIAL
Assalamualaikum
Di sini saya akan menyampaikan opini saya tentang Membangun Karakter Siswa Di Era Milenial.
Nah sebelum saya menjelaskan hal tersebut, saya akan mngupas terlebih dahulu apa sih itu era milenial? Mari kita kupas bersama-sama.
Era milenial atau era yang kita kenal dengan era globalisasi ini merupakan menurut saya bisa di artikan sebagai mendunianya seluruh kehidupan sosial, kehidupan politik, kehidupan ekonomi, hingga kehidupan budaya antara satu negara dengan negara lainnya hingga seluruh dunia dinyatakan tidak memiliki batas.
Nah, sudah kita bahas kan apa itu era milenial. Lalu apa sih salah satu hal yang paling menonjol di era milenial atau era globalisasi ini? Jawabannya adalah Internet.
Rata – rata di antara kalangan remaja Indonesia telah mengenal dan menggunakan internet dalam keseharian mereka. Namun kebanyakan dari mereka belum mampu untuk memilah antara aktivitas internet yang bersifat posistif dan negatif, serta cenderung mudah terpengaruh oleh lingkungan sosial mereka dalam penggunaannya.
Inilah yang mejadi keluhan masyarakat akhir – akhir ini. Generasi muda bangsa yang seharusnya menjadi tokoh dibalik kemajuan bangsa justru muncul dengan perilaku kesehariannya yang mengesampingkan etika dan moral. Waktu demi waktu terus berlalu, namun dampak yang ditimbulkan arus globalisasi kian marak dalam budaya anak muda saat ini. Sebagian besar masayarakat khususnya anak muda telah terpengaruh oleh budaya barat yang dijadikan sebagai ‘kiblat’ setiap perilaku mereka, sehingga hilanglah sudah identitas dan jati diri mereka sebagai Bangsa Indonesia. Berkaca dari permasalahan yang terjadi, maka sudah seharusnya dilakukan upaya-upaya yang dapat membangun karakter bangsa khususnya dalam hal budaya di Era Milenial ini.
Menurut saya Upaya Membangun Karakter Siswa di ERA milenial ini sangat di butuhkan sebuah media media tertentu, seperti apa saja kah media media tersebut, mari kita kupas bersama ;
Media Penunjang Pembangunan Karakter :
Keluarga
Keluarga merupakan media awal dari suatu proses sosialisasi. Begitu seorang bayi dilahirkan, ia sudah berhubungan dengan kedua orangtuanya, kakak-kakaknya, dan mungkin dengan saudara-saudara dekatnya yang lain. Peran orangtua lebih dominan memberi perhatian kepada anak.
Masyarakat
Pembentukan kepribadian dan wahana pengenalan serta pengimplementasian dari nilai dan norma.
Pemerintah
Sebuah wahana yang dapat memberi keteladanan pada masyarakat oleh para pelaksana fungsi pemerintahan.
Media massa
Media massa yang terdiri atas media cetak (surat kabar, majalah) maupun elektronik (radio, televise, dan film), merupakan alat komunikasi yang dapat menjangkau masyarakat secara luas. Media massa diidentifikasikan sebagai media sosialisasi yang berpengaruh pada tingkah laku atau sebuah karakter.
Pendidikan
Wahana pendidikan seperti tim pengajar dalam artian guru dilaksanakan secara terintegrasi. Pada pendidikan tingkat dasar, peran guru sangat besar dan bahkan dominant untuk mempengaruhi dan membentuk pola perilaku anak didik. Peran guru dalam memberi motivasi dan mendorong keberhasilan studi anak sangat besar. Hal itu akan berpengaruh pada tahap pendidikan selanjutnya. Para guru sebagai wakil orang tua tidak hanya bertugas memberikan pengajaran tetapi juga bimbingan karier kepada para peserta didik. Anak dituntut untuk dapat menetapkan sendiri pilihan ke masa depan sesuai bakat dan kemampuannya.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalu proses pendidikan yang diterapkan di sekolah-sekolah. Ki Hajar Dewantara berpendapat bahwa, “pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak kita.”
Maka, pesan yang didapatkan dalam pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan memiliki peranan yang besar dalam membangun karakter bangsa Indonesia.
Seiring berjalannya waktu, generasi muda saat ini justru lebih mudah terpengaruh oleh arus globalisasi yang melunturkan perilaku-perilaku kebangsaan mereka padahal ilmu yang diberikan baik di sekolah maupun di kampus tergolong semakin berat dan mulai bersaing dengan ilmu yang berada di luar sana. Harusnya, ada keseimbangan diantara keduanya maka akan diperoleh generasi muda cerdas dan bermartabat yang siap memajukan bangsa.
Dalam mendidik budaya dan karakter bangsa harus dikembangkan nilai-nilai Pancasila pada diri peserta didik melalui pendidikan hati,otak dan fisik.
Dalam hal ini, pengajar baik guru maupun dosen merupakan fasilitator yang memiliki peran untuk membimbing peserta didik hingga mampu secara aktif mengembangkan potensi dirinya, serta mengembangkan proses untuk berbagi pengetahuan dengan sekitar sehingga ilmu yang diserap dapat diterapkan pada orang lain dan ligkungan sekitar.
Lebih pentingnya lagi apabila dalam penerapannya juga dilakukan penghayatan nilai-nilai menjadi kepribadian dalam bergaul di lingkungan masyarakat, mengembangkan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera dan bermartabat.
Pada dasarnya pendidikan budaya dan karakter bangsa dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai – nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sebagai warga negara yang religius, nasionalis, dan kreatif sehingga dapat mewujudkan kemajuan dan keunggulan bangsa di masa mendatang.
Bung Karno mengemukakan bahwa karakter bangsa Indonesia merupakan kesatuan seluruh wilayah dan hati Bangsa Indonesia serta kepercayaan diri bangsa Indonesia yang tinggi sehingga mampu menjadi bangsa yang patut dibanggakan.
Berkaca dari pendapat yang telah dikemukaan oleh beliau, maka solusi yang paling tepat dalam membangun karakter bangsa di era millenial saat ini adalah dengan membangun dan menata kembali karakter dan watak bangsa Indonesia sendiri dengan terus melakukan pengembangan diri untuk menerapkan pendidikannya di masyarakat.
Tentunya, juga dapat dilakukan penerapan metode-metode yang dapat menarik perhatian orang lain dan lingkungan untuk ikut berpartisipasi dalam pengembangan karakter bangsa yang religius, nasionalis dan kreatif.
Bahasa maupun kebudayaan suatu daerah bisa dijadikan salah satu sarana yang efektif dalam penyampaian ilmu di masyarakat. Pendidikan ‘luar kelas’ pun juga dapat diterapkan agar peserta didik tidak terpaku pada hafalan materi yang ia dapatkan, namun dengan disajikan beberapa studi kasus atau menganalisis langsung suatu permasalahan dalam masyarakat kemudian diterapkan dalam proses kehidupannya.
Namun, perlu diingat bahwa setiap penerapan yang dilakukan haruslah sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku sehingga terjadi kesalahpahaman di masyarakat. Disinilah peran dari kaum cendekiawan sangat diperlukan untuk meningkatkan pendidikan dan karakter bangsa yang lebih inovatif kedepannya untuk memajukan bangsa Indonesia. Mari pemuda Bangsa Indonesia, wujudkan generasi milenial ini bukan sebagai generasi gadget melainkan sebagai generasi pembangun karakter bangsa yang siap memajukan Indonesia.
Dan tambahan lagi dari saya bahwa pendidikan karakter selain di dukung oleh faktor-faktor tersebut, tentunya juga harus di dukung dengan pendidikan agama, diama pendidikan agama itu secara langsung bisa merangsang perilaku, tingakh laku, watak, atau karakter seorang siswa.
Terimah Kasih.
Komentar
Posting Komentar